Notification

×

Iklan

Iklan

18 Tahun

Selasa, 25 Oktober 2022 | 12:08 WIB Last Updated 2022-10-25T05:11:32Z

 

Sketsa foto penulis, La Ode Arwah Rahman

Penanggalan waktu menunjuk 

Minggu, 24 Oktober 2004. Kurang tujuh hari lagi memasuki November. 


Ditulis oleh : La Ode Arwah Rahman 


RUANG tunggu gedung OK Rumah Sakit Umum Andi Makkasau Parepare yang hening, tiba-tiba pecah oleh tangisan bayi yang mengea dari kamar bersalin. 


Mertua perempuan saya yang tak henti berdoa, spontan berseru gembira. "Laki-laki," katanya dengan nada yakin. Seperti telah berpengalaman membedakan suara bayi laki laki dan perempuan. 


Saya bergegas beranjak dari tempat duduk menuju pintu masuk kamar operasi, yang sejak tadi tak henti saya pelototi menanti istri saya berjuang melahirkan  anak pertama kami. 


Cukup lama dan mendebarkan.  Kami sampai di rumah sakit malam sebelumnya. Istri saya mengalami kontraksi kurang lebih 23 jam. Benar-benar perjuangan luar biasa. 


Posisi bayi yang terlilit tali pusar adalah masalahnya. Bidan yang menanganinya sempat menyerah dan menyarankan agar kami menempuh jalan operasi. 


Namun, berkat pertolongan Allah SWT, waktu yang ditunggu itu akhirnya tiba. Anak pertama saya lahir selamat melalui persalinan normal. Begitu pula ibunya. 


Saya pun langsung sujud syukur setelah dilanda kecemasan berjam-jam. 


Namun perjuangan memiliki anak pertama sebenarnya telah dimulai 14 bulan sebelum itu.


Memasuki bulan kelima kami menikah, yaitu Desember 2003, tanda-tanda bakal memiliki anak tak juga kunjung datang. 


Di bulan pertama sempat hamil namun tak bertahan lama. Istri saya keguguran ketika memasuki minggu kedua. Di bulan berikutnya kembali hamil, namun lagi - lagi keguguran. 


Berbagai cara kami tempuh termasuk di luar jangkauan nalar. Puncaknya di awal tahun 2004 kami mengunjungi 'orang pintar'. Orang Bugis menyebutnya 'Sandro Pammimana'. 


Sambil diberi ramuan jamu dan posisi kandungan dibenarkan letaknya, kami berdua diminta banyak berdoa. Alhamdulillah, setelah dua pekan harapan kami bakal memiliki anak kembali muncul.


Memasuki minggu ketiga Januari, istri saya dinyatakan hamil oleh dokter, dan diminta sementara waktu tidak beraktifitas berat. 


Kembali ke kamar bersalin. Saat itu puncak kemarau. Koridor Rumah Sakit Andi Makkasau Parepare mulai lengang. Waktu mendekati pukul 23.00 wita. 


Saya hanya mengenakan baju kaos oblong. Hawa kemarau khas Parepare terasa. Angin berhembus sepoi dalam telikung  perbukitan  Parepare yang damai. 


Saat pintu kamar bersalin terbuka, mata saya langsung beradu mata istri saya. Ia tersenyum meski terlihat lelah. Senyum kebahagiaan. 


Peluh masih ada di wajahnya. Disebelahnya seorang bayi kemerahan tak henti menangis,  seolah tengah mengucapkan selamat datang kepada kehidupan baru dunia. 


Seorang suster dengan cekatan membersihkan dan memotong tali pusar bayi yang terhubung ke plasenta, lalu memberinya kain hangat agar bayi tidak kedinginan. 


Setelah dibersihkan saya  menggendong bayi mungil itu. "Alhamdulillah," guman saya dalam hati, sembari mengadzankan di telinga kanan dan membacakan iqamah di telinga kiri. 


Ia layaknya keluarga dekat yang tak pernah bertemu. Samar namun tak asing. Rambut, muka dan hidung dengan cepat saya mengenalinya. Rambut khas umumnya keluarga besar saya. Berombak. 


Hari berganti bulan, bulan beralih tahun, bayi laki-laki mungil itu kini telah  tumbuh remaja. Hari ini usianya genap memasuki 18 tahun. Perjalanan waktu yang tidak terasa. 


Masa kanak-kanak telah berlalu. Serasa baru kemarin ia memanjat pundak saya saat shalat. Kebiasaan yang kerap dilakukannya saat usianya menginjak dua tahun. 


Sore tadi sengaja saya  menulis kisah singkat ini. Mengenang masa lalu tanpa harus terlarut dalam simphoni sendu masa lalu. 


Satu kalimat untukmu nak, saya benci kekalahan, tapi saya berharap kamu akan mengalahkanku dalam segala hal. 


Selamat milad. Doa terbaik untukmu. Raihlah  cita-citamu. Jadilah kebanggaan orang tua. Tapaki kehidupan semesta. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan, keberkahan umur, kecukupan rezeki, kebaikan isi dunia dan sehat lalu. Aamiin, aamiin ya rabbal alamiin. 


Tulisan ini telah mengalami proses modifikasi dan telah pernah dimuat di facebook personal penulis, Oktober 2020.


×
Berita Terbaru Update