Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Takut Untuk Mencoba!

Kamis, 20 Oktober 2022 | 13:36 WIB Last Updated 2022-10-20T14:50:16Z


Edy Basri.,S.H.,
 

Ini adalah tulisan fiksi saya yang pertama. Saya menulisnya dengan imajiner. Senior saya, Dr Ishak Kenre., SKM., M.Kes., sempat ragu, ia menyarankan saya memesan dua cangkir kopi untuk merampungkannya, hehee....  


Oleh : Edy Basri., S.H., 

Seorang Jurnalis & Prosais 


SEBENARNYA, saya baru belajar menulis fiksi. Jujur, saya terinspirasi dengan senior saya yang lainnya, La Ode Arwah Rahman.,M.Si., karya fiksi terbarunya berjudul, Gerimis Oktober


Selain Aparatur Sipil Negara (ASN), beliau juga sebagai Dosen Ilmu Komunikasi di IAIN Parepare, sekaligus Penggiat Media Culture Study. Boleh dikata, beliau ini adalah suhu saya    


Sebelum-sebelumnya, saya hanyalah aktif sebagai penulis berita atau nonfiksi. Tepatnya, saat saya masih bekerja sebagai jurnalis di Harian Parepos dan Harian Fajar. 


Pemahaman saya, tulisan fiksi memang tidaklah semudah yang dibayangkan. Bahkan, jurnalis ulung sekalipun, harus banyak berlatih dulu untuk bisa menghasilkan karya fiksi yang menarik untuk dibaca.


Baiklah, saya memulai saja tulisan ini. Disini, saya mencoba memilih judul 'jangan takut untuk mencoba!'


Yah. Sekilas, judul di atas masihlah sangat umum. Kata kawan saya, juga seorang wartawan senior di Sidrap, Hasman Hanafi, judul seperti itu adalah judul yang masih mengambang 


Karena itu, saya ingin menekankan bahwa judul yang saya pilih ini, erat kaitannya dengan aktivitas menulis. Lebih spesifik lagi, menulis fiksi.


Mengutip pendapat Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan ternama, menyebut, orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah


Pendapat Pramoedya Ananta Toer itu tentu tidak ada salahnya. Namun, terlepas dari itu, saya ingin mengatakan jika menulis, memang sudah menjadi bagian dari jiwa saya.


Almarhumah ibunda saya, Hj Pujiati, pernah mengatakan kepada saya, kelak jika kamu sudah dewasa, engkau bisa menjadi seorang penulis. (Mungkin maksud ibunda saya, jadi wartawan, red).


Maklum, kata ibunda, sejak kecil, saya memang gemar menulis-nulis dinding. Saya hobi mencoret-coret apa saja yang saya temui di rumah, boleh jadi, itu pijakan berpikir ibunda saya kala itu terhadapku


Kakak perempuan saya pun, Heriati Basri., S.Pd pernah berkata demikian kepada saya. Tapi tidak seperti ibunda, kakak saya ini tidak memberi gambaran tentang saya ke depannya.


Karena itu, bagiku, menulis adalah napas kehidupanku. Sayang, selama ini saya belum paham, apakah kegemaran menulis saya ini, hobi fiksi atau apa?


Diluar sana ada banyak pendapat ilmiah mengenai tulisan. Sebagian besar mereka menyebutnya tulisan adalah salah satu bentuk komunikasi kepada pembaca. 


Di dalamnya, ada ide, gagasan, dan pikiran penulisnya. Ingat, yang kita bicarakan ini, fiksi ya. Jadi jangan sampai berdebat untuk menang-menangan pendapat.


Di dalam menulis, tentu membutuhkan keberanian untuk merancang ide, sekaligus mengeksekusinya dengan dilandasi argumentasi bernas. 


Tapi satu hal yang pasti bahwa salah satu faktor terpenting di dalam menulis adalah, jangan pernah takut untuk mencoba. Sama dengan judul fiksi yang saya pilih di atas  


Paling tidak, kita bisa mencoba menulis apa yang pernah dialami. Sejumlah hal yang perlu dilakukan ketika kita akan memulai menulis; 


Jangan lupa untuk rajin membaca dan riset. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan membaca karya orang lain berupa fiksi dan non fiksi. 


Membaca merupakan cara untuk menambah referensi dan mengembangkan keterampilan dalam menulis.  


Semakin banyak membaca makin bertambah pengetahuan yang didapatkan. Dai situ kita akan banyak mendapatkan ide, membuka wawasan baru, dan memperbanyak pilihan kata (diksi). 


Hal ini akan memudahkan kita menulis apa yang ada dalam pikiran sesuai topik. 


Riset menjadi salah satu faktor penting karena kita perlu mengumpulkan informasi dan data untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. 


Yang lain, bertanyalah kepada ahlinya. Pada tahap ini, kita bisa bertanya tentang topik atau tulisan yang akan dibuat kepada teman atau orang yang berpengalaman. 


Kemudian, bisa juga mengikuti pelatihan menulis. Pada tahap mulai menulis,  kita bisa mengikuti seminar, bimbingan teknis (bimtek), dan workshop tentang kepenulisan. 


Hal ini bukanlah sebuah keharusan tapi setidaknya bisa memperkaya pengetahuan yang sebelumnya tak kita ketahui. 


Sebab dari situ akan banyak manfaat yang bisa diperoleh seperti pengetahuan menjadi bertambah, mengetahui struktur atau teknik di dalam menulis artikel, dan yang tak kalah penting bisa membangun/memiliki kepercayaan diri. 


Boleh juga, bergabung dengan komunitas menulis. Bergabung dengan komunitas menulis merupakan pilihan paling tepat karena kita bisa saling kenal, mendapatkan ilmu baru seputar tulisan, saling memotivasi, dan saling menginspirasi. 


Dari situ malah tak jarang akan menghasilkan sebuah karya bersama seperti nulis buku bareng (NuBar). 


Lalu, pilih topik yang dikuasai. Pada tahuan sebelum membuat tulisan, hal yang yang harus dilakukan penulis adalah menentukan topik terlebih dahulu. 


Pada tahap ini, topik merupakan pokok pikiran atau dasar cerita yang akan kita tulis.  


Pemilihan topik akan lebih menarik kalau kita benar-benar menguasai masalah dengan baik. Kepiawaian menangkap isu, fenomena, dan juga mencari landasan/basis data yang tepat serta analisis tajam, akan membuat tulisan makin enak dibaca. 


Satu hal yang harus dipahami adalah jangan setiap peristiwa yang menarik perhatian masyarakat, langsung kita tuangkan dalam bentuk tulisan artikel. 


Penulis andal ialah yang mampu menerjemahkan fenomena berdasarkan bidang ilmu yang dikuasainya. Spesialisasi menjadi penting digarisbawahi agar kita tidak terjebak sebagai produsen segala tulisan.  


Pembaca adalah raja yang paling berhak menilai kualitas sebuah tulisan. Mereka berhak mendapatkan bukan sekadar informasi dari tulisan yang kita buat, melainkan juga bisa dijadikan referensi sebelum membuat keputusan. 


Selanjutnya, luangkan waktu untuk menulis. Poin inilah yang paling sulit diwujudkan. 


Ketika akan menulis biasanya diawali dengan sebuah gagasan/ide. Persoalan muncul ketika mendadak ide yang sudah ada tiba-tiba hilang karena berbagai sebab. 


Agar ide tidak menguap begitu saja, segerakan menulisnya dalam satu dua kata atau kalimat. Dengan begitu ketika ada waktu luang kita bisa mengembalikan ide tersebut. 


Kiat yang lain, harus konsistensi dalam menulis. Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan menulis yaitu konsistensi menulis. 


Ibarat belajar menyetir mobil, kalau cuma membaca teori tanpa pernah mencoba mengemudi tentu akan sia-sia saja. 


Ada pepatah menyebutkan alah bisa oleh karena biasa, yang dapat kita artikan bahwa pekerjaan yang sukar/sulit kalau sudah biasa dikerjakan, tentu tak akan menyulitkan. 


Menulis akan menjadi pekerjaan sulit kalau kita tak pernah melakukan. Ada istilah, ala bisa karena biasa. (*)


×
Berita Terbaru Update